Skip to main content
x
Sebanyak 3.000 karyawan dan keluarga PT Agricinal terimbas aksi blokade yang dilakukan oleh ratusan masyarakat di Kecamatan Putri Hijau, Senin 16/12/2024 (Foto:Hanny)

Blokade Masyarakat Ganggu Aktivitas PT Agricinal, 3.000 Karyawan dan Keluarga Terimbas

Indonesiaraja.com,Bengkulu Utara- Sebanyak 3.000 karyawan dan keluarga PT Agricinal terimbas aksi blokade yang dilakukan oleh ratusan masyarakat di Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara. Aksi ini dimulai pada 6 November 2024 dan telah berlangsung selama 41 hari, Senin (16/12/2024).

Masyarakat yang terlibat berasal dari Desa Pasar Sebelat, Talang Arah, Suka Negara, Suka Medan, dan Sukamerindu. Mereka tergabung dalam Forum Masyarakat Bumi Pekal (FMBP) dan menuduh PT Agricinal melakukan kegiatan perkebunan kelapa sawit secara ilegal karena perusahaan diduga tidak memiliki dokumen Hak Guna Usaha (HGU) terbaru tahun 2020.

Pantauan Kompas.com, blokade ini telah menutup lima akses jalan utama menuju perkebunan PT Agricinal dengan material koral. Setiap pintu masuk dijaga oleh masyarakat setempat, yang semakin memperburuk kondisi bagi perusahaan dan karyawan.

Manager Legal PT Agricinal, Afriyadi, mengungkapkan bahwa akibat blokade ini, aktivitas perusahaan dan kehidupan karyawan terganggu. 

"Sejak blokade, semua aktivitas perusahaan dan karyawan terganggu. Akses truk antar jemput anak sekolah juga terhambat, terutama di awal pemblokadean. Truk-truk diperiksa, jalan-jalan dipasang kawat berduri, dan ditumpuk koral," ungkap Afriyadi saat ditemui di kantor PT Agricinal.

Afriyadi juga menambahkan bahwa ribuan petani mitra yang biasa menjual buah sawit ke perusahaan terpaksa mencari tempat lain yang lebih jauh karena tidak bisa memasuki area perkebunan yang diblokade. 

"Kami memiliki ribuan petani mitra yang selama ini menjual buah sawit ke perusahaan kami. Karena diblokade, mereka terpaksa menjual ke tempat lain yang lebih jauh," jelasnya.

Ketua Kelompok Koperasi Petani Mitra PT Agricinal, Partono, juga mengungkapkan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh blokade tersebut. 

"Biaya angkut untuk menjual buah sawit meningkat. Biasanya, biaya antar buah sawit ke PT Agricinal adalah Rp 500.000 per mobil L300 muatan 3 ton. Sekarang, akibat blokade, menjadi Rp 750.000," keluh Partono.

Selain itu, pasokan bahan bakar minyak (BBM) solar yang digunakan untuk penerangan dan kegiatan di perkebunan juga terhambat, mengingat PT Agricinal biasanya membutuhkan 30.000 ton BBM per bulan, namun hanya mampu mendapatkan 5 ton per bulan saat ini. 

"Kami memasukkan BBM nekat-nekat saja," ungkap Afriyadi.

Pasokan gas untuk kebutuhan memasak karyawan juga terhambat. Karyawan harus mencicil gas dan tidak berani menggunakan truk untuk mengantarkannya karena takut dicegat oleh pihak yang memblokade jalan.

Afriyadi menambahkan bahwa perusahaan sangat berharap agar blokade ini segera dihentikan, agar kegiatan operasional dapat berjalan lancar kembali, serta masyarakat yang terdampak juga bisa kembali beraktivitas tanpa hambatan.

 

Reporter : Hanny Try 

Editor : Sherly Meviitasari