Kayiak Nari: Ritual Adat Bengkulu Selatan yang Menandakan Anak Perempuan Memasuki Usia Baligh
Indonesiaraja.com,Bengkulu- Kayiak nari adalah salah satu ritual tradisional yang dilakukan untuk menandakan bahwa seorang anak perempuan, yang berusia sekitar 5 hingga 7 tahun, telah siap memasuki usia baligh, Senin (06/01/2025).
Ritual ini merupakan bagian penting dari adat di Kabupaten Bengkulu Selatan, yang melibatkan rangkaian proses mandi, penampilan seperti pengantin, serta tarian khusus yang dipandu oleh seorang dukun beranak.
Kayiak nari terdiri dari dua kata: kayiak, yang merujuk pada ritual mandi di sungai atau sumur, dan nari, yang menggambarkan prosesi tarian yang dilakukan selama acara tersebut. Ritual ini tidak hanya sebagai simbol pertumbuhan fisik, tetapi juga sebagai cara untuk memohon perlindungan dan berkah bagi anak yang baru memasuki usia dewasa.
Proses persiapan ritual dimulai dengan sejumlah bahan dan perlengkapan yang harus disiapkan. Di antaranya adalah air jampian jeruk nipis, pakaian adat lengkap dengan perhiasan untuk pengantin kecil, dua tikar anyaman daun pandan, dan beras yang dicampur kunyit hingga berwarna kuning. Selain itu, tunas kelapa yang masih muda juga digunakan sebagai simbol harapan agar anak yang menjalani ritual ini tumbuh sehat dan bermanfaat seperti pohon kelapa yang dapat dimanfaatkan dari ujung daun hingga akar.
Tahapan Proses Kayiak Nari
- Kayiak (Mandi di Sungai)
Pada tahap pertama, anak perempuan yang akan menjalani ritual kayiak, yang disebut "pengantin keciak," dibawa ke sungai atau sumur terdekat. Anak tersebut mengenakan kain penutup tubuh dan mandi di air sungai sesuai dengan kehendaknya. Setelah mandi, pengantin keciak akan duduk di atas batu di sungai, dan seorang dukun beranak akan memandikannya kembali sambil membacakan doa. Doa yang dibacakan adalah permohonan agar anak tersebut tumbuh sehat, menjadi anak soleha, dan dilindungi oleh Allah.
Setelah mandi, pengantin kecil akan dibawa ke rumah tetangga terdekat untuk mengganti pakaian dan dirias seperti seorang pengantin, lengkap dengan tajuak atau perhiasan kepala. Pada bagian belakang sanggul, diletakkan daun sirih, daun beringin, dan daun segingin sebagai simbol harapan agar anak tersebut selalu memiliki hati yang dingin, baik hati, dan sehat.
- Nari (Tari Tradisional)
Setelah pengantin kecil siap, rombongan akan mengabarkan kepada pemimpin acara bahwa pengantin telah selesai mandi dan siap melanjutkan ke prosesi selanjutnya. Dua tikar anyaman dibentangkan berbentuk tambah, dan tunas kelapa diletakkan di tengahnya. Tunas kelapa ini menjadi simbol harapan bagi anak agar kelak bisa tumbuh bermanfaat bagi orang banyak.
Pengantin keciak kemudian akan menari "Andun," diikuti oleh teman-temannya yang sebayanya, mengelilingi tunas kelapa. Dukun beranak yang mendampingi pengantin kecil juga ikut menari sambil memegang payung dan uang receh, yang bermakna sebagai harapan agar anak tersebut selalu dilindungi dan diberi rezeki yang melimpah.
Tarian ini diiringi dengan musik kelintang atau kedap, dan gerakan tariannya berbeda dengan tari Andun dalam acara adat lainnya. Gerakan tariannya terdiri dari niup-mbuka-nyentang-menyengkeling, kemudian kembali ke gerakan awal. Pengantin keciak akan menari bersama teman-temannya sebanyak tujuh kali keliling.
Pada keliling ketujuh, ibu dari pengantin keciak akan menghamburkan beras kuning, simbol berbagi rezeki. Beberapa keluarga yang lebih mampu juga menambahkannya dengan hamburan uang receh dan permen. Setelah prosesi tari selesai, pengantin kecil akan diajak ke dalam rumah untuk dijamu dengan kue dan minuman, sementara tamu lainnya melanjutkan acara jamuan makan bersama di luar.
Ritual kayiak nari memiliki banyak makna, terutama dalam menandakan bahwa anak perempuan yang menjalani ritual ini sudah siap memasuki kehidupan dewasa. Selain itu, acara ini juga berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta memperkuat ikatan sosial di masyarakat.
Dengan berakhirnya ritual ini, anak perempuan yang menjalani kayiak nari dianggap sudah siap menjalani aktivitas-aktivitas yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Pada zaman dahulu, anak yang telah menjalani ritual ini diharapkan bisa membantu pekerjaan rumah tangga atau ikut dalam kegiatan panen padi bersama keluarga.
Kayiak nari bukan sekadar sebuah ritual adat, tetapi juga merupakan simbol transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan bagi anak perempuan di Bengkulu Selatan. Melalui prosesi ini, masyarakat berharap anak-anak yang menjalani ritual ini dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi orang banyak.
Reporter: Hanny Try
Editor: Sherly Mevitasari
- 250115 views
