Skip to main content
x
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal, Selasa 3/12/24 (Foto:Hanny)

Inflasi Di Bengkulu Masih Terbilang Stabil, Penyumbang Inflasi Berasal Dari Makanan

Indonesiaraja.com, Bengkulu - Pada bulan November 2024, inflasi di Bengkulu tercatat sebesar 0,20 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), 0,82 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), dan 0,49 persen secara tahunan hingga November (year-to-date/y-to-d). Data ini menunjukkan bahwa inflasi di Bengkulu relatif stabil, meskipun ada pengaruh dari beberapa kelompok pengeluaran dan komoditas utama yang mempengaruhi angka inflasi.

Meskipun inflasi berada pada tingkat yang cukup terkendali, tetap ada perhatian terhadap faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat, seperti harga bahan pangan, transportasi, dan energi. Kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok atau perubahan harga komoditas utama sering menjadi pendorong utama inflasi di berbagai wilayah.

Pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas penting bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memastikan kestabilan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, dan memitigasi dampak inflasi terhadap kesejahteraan warga.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengungkapkan bahwa penyumbang utama inflasi bulanan di Bengkulu pada November 2024 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang berkontribusi sebesar 0,15 persen terhadap inflasi month-to-month (m-to-m). Beberapa komoditas yang paling berdampak pada inflasi ini antara lain bawang merah dengan kontribusi sebesar 0,11 persen, tomat sebesar 0,05 persen, bawang putih sebesar 0,02 persen, serta mie dan Sigaret Putih Mesin (SPM) yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,01 persen.

"Inflasi masih terjadi ya dan paling utama penyumbangnya adalah makanan, minuman, dan tembakau. Lalu disusul dengan perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga," kata Win Rizal, Selasa (3/12/2024)

Kenaikan harga komoditas-komoditas tersebut berperan signifikan dalam mendorong inflasi di Bengkulu pada bulan November. Bawang merah, tomat, dan bawang putih, yang merupakan bahan pokok dalam konsumsi rumah tangga, sering mengalami fluktuasi harga yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat. Sementara itu, kenaikan harga mie instan dan sigaret putih mesin juga berkontribusi terhadap inflasi, meskipun dengan kontribusi yang lebih kecil.

Penting bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk terus memantau harga-harga barang pokok ini, agar inflasi dapat dikendalikan dan dampaknya terhadap perekonomian, terutama daya beli masyarakat, dapat diminimalkan.

Penyumbang inflasi tahunan di Bengkulu pada November 2024 dipengaruhi oleh beberapa kelompok, salah satunya adalah kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, yang memberikan andil sebesar 0,33 persen terhadap inflasi year-on-year (y-on-y). Komoditas utama dalam kelompok ini yang berkontribusi cukup signifikan adalah emas perhiasan, yang menyumbang 0,22 persen terhadap inflasi tahunan.

Kenaikan harga emas perhiasan seringkali menjadi faktor penting dalam inflasi tahunan, mengingat permintaan yang terus tinggi terhadap barang tersebut, baik sebagai investasi maupun sebagai barang konsumsi. Meskipun kontribusinya terhadap total inflasi tidak sebesar kelompok makanan atau energi, fluktuasi harga emas tetap dapat mempengaruhi tingkat inflasi, terutama bagi masyarakat yang banyak mengonsumsi atau berinvestasi dalam bentuk emas.

"Meskipun inflasi secara umum masih dalam kategori terkendali, peningkatan harga pada komoditas tertentu seperti bahan makanan dan jasa menunjukkan adanya tekanan pada daya beli masyarakat, terutama menjelang akhir tahun," pungkas Win Rizal

Penting bagi pihak berwenang untuk memantau perkembangan harga emas dan kelompok perawatan pribadi ini, untuk memahami lebih lanjut dampaknya terhadap perekonomian dan daya beli masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, penyumbang inflasi tahunan di Bengkulu juga dipengaruhi oleh beberapa kelompok lainnya, seperti Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran, yang memberikan andil sebesar 0,27 persen terhadap inflasi tahunan. Kontributor terbesar dalam kelompok ini adalah nasi dengan lauk, yang menyumbang 0,09 persen, diikuti oleh ayam goreng dengan kontribusi sebesar 0,04 persen. Kenaikan harga makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari, seperti nasi dengan lauk dan ayam goreng, dapat berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga, sehingga mempengaruhi inflasi tahunan.

Selanjutnya, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menyumbang 0,11 persen terhadap inflasi tahunan. Komoditas utama dalam kelompok ini adalah kontrak rumah, yang berkontribusi sebesar 0,09 persen. Kenaikan harga sewa rumah atau biaya kontrak rumah dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap inflasi, terutama bagi masyarakat yang menyewa tempat tinggal.

Secara keseluruhan, inflasi tahunan di Bengkulu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kenaikan harga bahan makanan, biaya penyediaan layanan restoran, dan biaya perumahan. Pemerintah dan pihak terkait perlu terus memantau faktor-faktor ini untuk menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat.

 

 

 

 

Reporter : Hanny Try 

Editor : Sherly Mevitasari