PUPR Mukomuko Prioritaskan Pembangunan Bendungan Irigasi yang Jebol di Desa Penarik
Indonesiaraja.com,Mukomuko– Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menyebutkan bahwa pembangunan kembali Bendungan Irigasi Air Dikit Kecil yang jebol akibat banjir di Desa Penarik menjadi salah satu program prioritas daerah.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mukomuko, Apriansyah, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi bendungan yang rusak. Namun, saat ini, pihaknya mengungkapkan bahwa belum tersedia anggaran untuk melakukan perbaikan.
"Kalau sekarang kami belum bisa berbuat apa-apa, tetapi kami masukkan dalam program prioritas daerah ini," ungkap Apriansyah, Minggu (19/01/2025).
Apriansyah memperkirakan bahwa kebutuhan anggaran untuk pembangunan kembali bendungan irigasi tersebut mencapai sekitar Rp500 juta. Ia menambahkan bahwa kemungkinan alokasi anggaran untuk proyek ini baru dapat dilaksanakan pada tahun 2026.
“Untuk itu, petani di wilayah tersebut harus bersabar, karena tahun ini belum ada anggaran pembangunan yang tersedia,” jelasnya.
Apriansyah juga menegaskan bahwa pembangunan irigasi yang rusak akibat bencana alam tidak dapat menggunakan dana belanja tidak terduga, karena peristiwa banjir tersebut sudah terjadi lebih dari 14 hari yang lalu.
Sudianto, seorang petani di Desa Penarik, melaporkan bahwa bendungan Irigasi Air Dikit Kecil sudah jebol akibat banjir yang terjadi sekitar 20 hari lalu. Ia mengatakan, kondisi ini menyebabkan petani di desa tersebut terhambat untuk turun ke sawah dan memulai proses tanam padi.
"Kami mau turun sawah, tetapi irigasi masih jebol akibat banjir yang terjadi sejak 20 hari yang lalu di lokasi tersebut," ujar Sudianto.
Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju Makmur di Desa Penarik mengandalkan Irigasi Air Dikit Kecil untuk mengairi sawah mereka yang seluas sekitar lima hektare. Meskipun sebagian besar sawah tersebut telah beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit, para petani berharap agar irigasi tersebut segera diperbaiki agar mereka bisa kembali menanam padi.
"Harapan kami agar segera diperbaiki. Kami takut area sawah kami habis dialih fungsi nantinya, karena tidak ada sumber pengairan," tambah Sudianto.
Sebelumnya, para petani di wilayah ini dapat menanam padi tiga kali dalam setahun. Namun, dengan kondisi irigasi yang rusak, mereka khawatir kehilangan mata pencaharian mereka jika sawah tidak bisa dialiri dengan baik. Panen padi terakhir kali terjadi pada bulan November 2024, sebelum bendungan tersebut jebol.
Para petani berharap perbaikan bendungan segera dilakukan agar mereka bisa melanjutkan kegiatan pertanian dan mempertahankan sawah mereka sebagai sumber penghidupan.
Reporter : Hanny Try
Editor : Sherly Mevitasari
- 250091 views
