Skip to main content
x
Enam motif baru, batik Diwo Kepahiang, Kamis 3/10/24 (Foto:Hanny)

Ragam Batik Di Indonesia, Pengrajin Batik Terus Berinovasi

Indonesiaraja.com, Bengkulu - Momen hari batik menjadi momen yang juga dimanfaatkan oleh pengrajin dan pegiat batik untuk terus berinovasi. Seperti halnya batik Diwo yang tengah dipopulerkan oleh Yayasan Az-Zahra Kepahiang.

Dalam agenda rakor literasi, inovasi dan kreatifitas yang digelar oleh Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Bengkulu, akhir bulan September lalu, yayasan ini memperkenalkan enam motif terbaru. Sehingga semakin memperbanyak pilihan motif batik Diwo Kepahiang.

Berikut adalah rincian enam motif baru, batik Diwo Kepahiang: Pertama adalah Motif Bungei Kibut, didesain intan Dahlia. Bungei Kibut adalah tumbuhan endemik yang banyak ditemukan di Kepahiang.

Motif Bungei Kibut sebagai simbol keberanian dan kesejukan, karena tanaman ini dipercaya sebagai pertanda musim hujan akan segera tiba setelah kemarau panjang. Garis lengkung pada motif melambangkan pegunungan dan dataran tinggi yang merupakan bentuk geografis kabupaten Kepahiang.

Selanjutnya motif Kawo Lem Teleng, didesain Jeniar Ferrary. Dalam bahasa Rejang berarti buah kopi yang berada di dalam tampah.

Motif ini terdiri dari buah kopi yang berarti kemakmuran, anyaman tampah atau alat tradisional untuk membersihkan beras berarti simbol hubungan sosial masyarakat yang saling menguatkan. Sedangkan 4 daun kopi melambangkan perlindungan dari 4 penjuru mata angin.

Selanjutnya motif Mingai yang didesain Merti Dwi Ariesti. Motif ini menggambarkan salah satu kekayaan alam di kabupaten Kepahiang, yaitu tanaman kemiri.

Motif ini menampilkan tanaman kemiri secara keseluruhan, mulai dari akar dan bintik air yang berarti kesejukan, bunga yang banyak melambangkan kemakmuran, daun berarti wilayah yang luas, cangkang kemiri berarti tekad yang kuat dan warna putih pada isi biji kemiri berarti kesucian. Selain itu motif ini memuat tulisan ulu atau ka-ga-nga yang merupakan kebudayaan masyarakat Rejang Kepahiang.

Berikutnya adalah motif Pusako Tanea Jang, hasil desain Andreas Mardiandas. Pusako Tanea Jang dalam bahasa Rejang berarti warisan dari leluhur suku Rejang.

Motif ini terdiri dari tiga unsur, yakni padi, kopi dan siwar. Padi sebagai simbol sumber kehidupan dan kebahagiaan dan kopi bermakna kemakmuran.

Sedangkan unsur ketiga adalah siwar sebagai simbol kekuatan, kehormatan serta pelindung dalam konteks spiritual dan magis. Tiga unsur tersebut merupakan warisan leluhur yang dilestarikan.

Kemudian ada motif Setawar Sedingin, desain Guntur Putrajaya. Setawar Sedingin adalah tradisi di bumi Sehasen Kepahiang dalam upaya menyelaraskan dan menyeimbangkan kehidupan di masyarakat.

Motif ini terdiri dari dua unsur, yaitu daun pancing atau daun sedingin yang dipercaya sebagai penenang atau pendingin sehingga menyejukkan. Unsur lingkaran bulat berbentuk bumi merupakan simbol budaya yang harus tetap terjaga dan dilestarikan.

Terakhir motif Sehasen, desain Nur Zahrun Al Jannah. Motif ini merupakan semboyan kabupaten Kepahiang, yang berarti selaras, elok, harmonis, aman dan sentosa.

Motif Sehasen terdiri dari 5 elemen pendukung, yaitu Air sebagai Arti kehidupan, cerana atau peralatan kuningan untuk daun sirih menunjukkan penghormatan, dan peta Kepahiang berarti keberagaman. Sementara unsur jalan berliku berarti tangguh dan kopi bermakna kemakmuran bagi masyarakat Kepahiang.

 

 

 

 

Penulis : Hanny Try 

Editor : Sherly Mevitasari